Mari Berbagi....

Selamat datang Indonesia!!!!...

Mari berbagi setiap cerita, harapan,keinginan,karya dan Mimpi.....

- Sakti Fahri Seno -


Jumat, 08 Februari 2008

Better Education

Mampussss!!!!,Sakit Jiwa!!!.........

Profesionalisme diukur dari tingkat akademis, Lalu Ijasah ??? sebagai bukti menjadi sangat penting.

" Pa' Saya Sarjana strata satu jurusan Ekonomi, tapi memang ijasah saya hilang waktu rumah saya kebanjiran " Mencoba meyakinkan tingkat pendidikan yang sudah dilaluinya.

" Maaf Pa'... yang kita butuhkan disini adalah orang yang benar-benar Sarjana Ekonomi, dan kita butuh buktinya "

Sebuah opini yang berkembang adalah : " tingkat pendidikan seseorang menentukan kemudian orang tersebut profesional atau tidak " kemudian mampu mengaplikasikan ilmunya, sebagai tuntutan dari apa yang telah diperolehnya.

Kaum intelektual,terhormat dan disegani karena keilmuannya ditandai dengan gelar yang ditambah sebelum dan sesudah nama menjadi kebiasaan masyarakat indonesia.

Lalu pertanyaannya : Sudahkah kita benar-benar menghargai seseorang karena keilmuannya ? atau sebuah penghargaan diberikan karena gelarnya ???

Bias makna yang tersimpan saat sebuah kalimat terlontar tanpa dasar,tanpa kajian dan tidak diiringi dengan disiplin ilmu yang berkaitan.

Islam sangat detail memperhatikan hal ini, sebagai salah satu bukti yang paling kuat adalah ayat pertama yang diwahyukan Allah SWT. adalah Iqra' = Bacalah.. sungguh sebuah keteraturan yang indah ketika pada saat itu semua manusia dimuka bumi ini berada dalam pada zaman jahiliyyah/kebodohan kemudian turunlah Ayat ini sebagai pembuka sebuah peradaban baru yang berilmu. kemudian pada ayat selanjutnya Al ladzi 'Al lama bil qalam (Al-Alaq ayat 4)
" yang mengajar (Manusia) dengan perantaraan kalam " yang mengajarkan manusia dengan perantaraan/cara tulis baca. Kemudian Rasulullah SAW. pernah menyampaikan kepada sahabat bahwa orang yang menuntut ilmu sama pahalanya dengan orang yang berjihad dijalan Allah SWT., kemudian dikesempatan yang lain juga diserukan kepada Ummat-nya adalah untuk terus belajar sampai ke negeri cina. sungguh betapa sangat jauh sekali negeri cina dengan negeri Arab, artinya disini sejauh atau sesulit apapun Belajar sangat utama ummat islam sejak saat itu.

Lalu kita dizaman ini,dengan perkembangan tekhnologi yang semakin canggih dihadapkan pada persaingan dunia yang semakin ketatm,seyogianya sangat memperhatikan hal ini. Namun demikian banyak sekali diantara kita yang sudah keluar dari tujuan awal yang diperintahkan Nabi. Betapa tidak kemudian yang sangat diperhatikan dewasa ini adalah lulusan mana dan tingkat berapa, kalaupun ditanyakan disiplin ilmu apa yang diambil lebih kepada hanya sebuah pertanyaan belaka.Artinya penekanan yang dilakukan disini adalah tidak lebih dari sekedar tempat belajar dan tingkatannya. Tidak penting disiplin ilmu apa yang dipelajari.kemudian Anak didik-nya,siswa-nya dan pelajarnya tidak sama sekali mengerti betapa pentingnya disiplin ilmu yang dipelajarinya, toh jika nilainya tidak bagus masih bisa ngulang,her atau perbaikan.kemudian orang tua..., yang semestinya menjadi guru kedua setelah sekolah sudah seharusnya menjadi pembimbing,pemerhati apa saja yang sudah dipelajari anaknya malah berlaku hanya sebagai penyandang biaya sekolah.kemudian bangga saat anaknya sudah mencapai tingkat akhir belajarnya. Lalu Guru,dosen atau pengajar..dengan alasan kondisi psikologis kemudian membatasi materi,mengatur kurikulum sesingkat mungkin, asal tujuan belajarnya sudah tercapai tidak perlu lagi memikirkan hasil yang diperoleh.Oleh karena semua itu pantas-lah jika kemudian generasi bangsa indonesia menjadi sangat diragukan keilmuannya dimata bangsa asing.Budaya "Nrimo" , " Cepat puas ", dan " Sombong " diaplikasikan kepada seluruh sendi-sendi kehidupan termasuk belajar mengajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar