quote***********************************************************
Masq,
Aku mau protes…
Ga banget foto yang penampakan! Masa istri sendiri dibilang penampakan?! Kira” dunks….cari kek yang lain. Kurang koleksi fotoku ya?! Ganti. Ganti! Sebel ah! Jelek kamu! Kenapa juga ga minta foto perkawinannya pak fuji yang ada kita rame” and yang kawinannya mba iin. Ga kreatif amat sih…apa terlalu kreatif ya?! Marah aku.
Nih fotoku di id card yang baru…kalo fotoku yang di id card maersk ada ga? Kumpulin dunks. ntar qt liat 5 thaun dari sekarang. Makin jelek atau makin parah hehehe……
tembem
************************************************************************************
Perhatiannya yang tinggi cenderung kadang suka kelewatan. " Iyyyaaaa Bawwellll " dua kata yang kadang terlontar tanpa sengaja.Hihihi... jadi suka ngrasa bersalah kalo inget " Maafin Aq ya Bemq sayang ". Kritis untuk setiap hal yang dirasakan, dilihat dan didengar. Sarkasme, tajem dan nyelekittt!!! tapi entah kenapa semuanya itu justru membuat semua perasaan semakin dalam. Pada dasarnya karena Gw emang ga suka pujian-pujian yang terlalu sering dan manis, gw bakal lebih sangat menghargai dan berasa ada harganya justru kalo dapet kritikan. Sebab menurut gw sesuatu yang berlebihan pada akhirnya tidak baik. ya termasuk Makhluk menyeramkan bernama " Pujian " tadi. Karena ternyata orang yang terlalu banyak dan sering memuji itu justru adalah musuh terbesar kita untuk berkembang. Mengapa demikian ? ya seringkali kita sebagai manusia biasa terlena akan pujian-pujian tadi. Menjadi sombong karena merasa hebat,mengalami kemunduran karena terlena akan pujian-pujian tersebut dan cenderung mati karya karena kemudian merasa sudah cukup dengan apa yang sudah dilakukan. Waw !!! cukup berbahaya sekali rupanya.
Kembali ke Tembemq......
Jujur kadang suka kaga tahan dengan kalimat-kalimat ekstrimnya, sering kita berada pada titik kulminasi emosi tertinggi, adu argumentasi dan saling menguji pendapat yang kemudian diakhiri dengan pertengkaran. Salah kalimat, penekanan kata atau intonasi dan bahasa tubuh dalam menyampaikan pendapat sering tidak terkontrol. kalau sudah begitu kalau engga gw yang tersinggung ya kadang dia. Anyway kita sudah sepakat bahwa hal ini adalah bagian dari proses bagaimana kita belajar untuk berkomunikasi, karena kita setuju didalam hubungan ini tak ada sedikitpun perasaan yang tidak enak kami sembunyikan, apa yang ada dikepala, penilaian-penilaian dan analisa tentang kami selalu kami bicarakan. Efeknya ya diatas tadi.tapi toh akhirnya kita sama-sama mengerti, kita sepakat membuat semuanya lebih baik. Meski kadang kita sampai harus teriak-teriak,nangis-nangis dan nyanyi-nyanyi tapi kita sudah sama-sama tau bahwa jauh didasar hati yang paling dalam kita tau kita saling mencintai, dalam logika yang paling sadar kita yakin kita bisa menjadi yang terbaik. Tentu keyakinan berdasarkan logika ini sudah melalui banyak pengujian-pengujian(maaf can't publish, Top secret euuyyy!).
Hal yang paling aneh diantara kita adalah ternyata dialah yang paling logis, trus sebaliknya gw yang sering gunain perasaan. Heh... lucu juga gw yang slalu nge-plan untuk setiap hal meski kegiatan atau hal-hal kecil dan dia yang selalu menggunakan logika. Nampaknya cukup bisa dimanfaatkan untuk kemudian menciptakan peta hidup yang jauh lebih jelas. Kemudian sikap dan tingkah laku-nya cenderung bisa disebut slanang-slonong atau gradak-gruduk Dan gw cukup tenang, lah ini juga ternyata bisa menjadi hal yang sangat baik juga jika digabungkan. Hasil akhirnya adalah dengan peta hidup yang terencana dan logis kemudian dijalani dengan ritme yang cukup sedang, tidak terlalu cepet juga tidak terlalu tenang atau santai. Sebuah formula atau konsep yang cukup jitu rupanya.
Dalam setiap saat kami bersama sering gw yang menjadi decision maker " sambil belajar menyerahkan semua kepada suami " ucapnya dalam suatu diskusi. Awalnya gw cukup sebel juga kenapa seringkali gw yang menjadi pembuat keputusan, dan gw pikir ya sudah gw buat aja keputusan-keputusan itu meski hanya memilih tempat makan atau mau makan apa, balik lagi sering banget dia komplain ini-lah ,itu-lah yang akhirnya gw sering ngrasa bersalah. tapi disini gw coba mengambil sisi positifnya dimana ternyata gw mesti lebih berhati-hati dalam membuat setiap keputusan, walaupun hanya menentukan hal-hal yang tidak terlalu penting. dan setelah gw inget-inget ternyata ini adalah prinsip dasar untuk menjadi pemimpin, gw dapet saat gw belajar LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) disalah satu kegiatan remaja mesjid di daerah rumah. Tadinya gw cuma mikir bukan saatnya sekarang gw sebagai pembuat keputusan, jadi menurut gw ya sama-sama aja-lah kalo ada yang harus ditentukan atau dibuat keputusan. Tapi gw seneng, akhirnya dengan keadaan ini gw sama-sama belajar lagi. Belajar untuk pintar membuat keputusan dan belajar buat bersyukur dengan apa yang sudah diputuskan.
Aduh sebenernya masih banyak yang gw mao ceritain.., tapi mungkin nanti dilain judul atau kesempatan aja kali.... karena gw yakin dengan sedikit cerita diatas saja sudah bakal membuat sebuah opini yang baik tentang hubungan kita( Maaf Narsis ). see you....