Demokrasi....
Sebuah kata kunci yang konon menggaung dewasa ini, fenomena pembelajaran akan sebuah nilai-nilai tercemar oleh sebuah sikap politik para politisi dan calon anggota dewan yang. 5 Tahun sejak era Reformasi membuat kepala-kepala menjadi semakin besar, sebagian dari mereka menganggap suara rakyat dapat dibeli dan rakyat-pun mempertanyakan berapa nilai uang yang mereka dapat untuk satu suaranya. Tentu saja ada nilai bisnis disini. Keluar uang mesti dapet suara, untuk dapet suara mesti keluar uang. prosesi pemilihan yang jujur dan adil tak lagi dapat ditemui disini " Uangmu Untuk-Ku, Suara-Ku untuk-Mu ". Kemudian pembelajaran akan sebuah nilai Demokrasi yang sesungguhnya diukur oleh hanya banyak dan beragamnya partai politik. Ratusan bahkan Ribuan calon anggota dewan menjadi barometer sebuah perkembangan pelajaran tentang demokrasi. Kemudian tujuan dari sebuah bangunan demokrasi itu sendiri runtuh dengan sendirinya. Besarnya suara rakyat bergantung kepada besarnya uang yang dikeluarkan, idealisme partai politik runtuh ketika perolehan suara tidak dominan, celakanya partai-partai gurem yang tidak mencapai syarat threshold parliamentary-pun berbondong-bondong membangun sebuah kekuatan. Blok Perubahan, Triangle Bridge sampai kepada Golden Triangle menjadi istilah baru yang tidak mudah untuk difahami semua mengejar kekuasaan, apapun statement yang mereka sampaikan seolah perduli akan kesejahteraan rakyat kalau sudah begini masih saja sibuk mencari muka bahkan mencuri hati.
Setelah Pemilu Indonesia punya satu musim baru diluar musim hujan dan musim kemarau, " Musim Stress ". Rumah sakit jiwa, psikater dan dokter alternatif mendadak kebanjiran pasien. Dari mulai yang stress ringan, insomnia, stress berat sampai "Gila" menjadi sebuah tambahan kosakata baru dalam kamus Pemilu.
Formula-nya :
Uang yang keluar + Target yang dibuat + sedikit visi misi basi (Harus) = Suara yang diperoleh banyak/Kursi yang didapat
Jika tidak (Suara yang diperoleh banyak/Kursi yang didapat)maka = Stress
Sesegera mungkin digagasnya sebuah lembaga/institusi atau lembaga swadaya baru yang mampu memberikan pengajaran yang lebih intensif kepada masyarakat luas akan arti yang sesungguhnya sebuah demokrasi. " Pengajian Politik " menjadi sebuah media baru untuk memberi pencerahan, kemudian teladan dari mereka yang terpilih untuk menjalankan amanah sejujur-jujurnya " Harus menjadi kotor untuk tau yang BERSIH, Gunakan hati untuk setiap keputusan dan sikap politik " . Idealnya " Membela yang benar meski sebagian mereka menganggap Kotor ".
To : Abang and Mpo' " Edukatif, ga' Bullshit and realistic ... "