Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar...
Laaa ila ha illahu allahu akbar
Allahu akbar walillahilhamdu...
Allahu akbar kabiraa...
Walhamdulillahi katsiraa...
Wasubhanaallahi bukhrataw wa asiila...
Laaa ila ha illahu allahu akbar...
Allahu akbar walillahilhamdu....
Maha besar Allah dengan segala kekuasaannya....
Ramadhan telah berlalu, menyisakan banyak makna dalam pembentukan diri. Menuju sebuah pencerahan dalam kehidupan dunia menuju akhirat. Rangkaian ibadah menjadi penopangnya, pelaksanaan kewajiban sebagai makhluk Allah. Bukan berbangga hati karena telah menyelesaikan ramadhan, sedikit bersuka ria tanpa berlebih. bersedih karena ditinggalkan ramadhan bukanlah menjadikan setiap kita diam dan terpuruk. Motivasi hidup cepat diraih menuju kehidupan setelah ramadhan, lalu efek yang ditinggalkannya sebagai barometer menuju ramadhan berikutnya. Demi Allah hanya orang-orang yang menjalani ramadhan dengan baik-lah yang senantiasa menantikan kehadirannya kembali.
Dari lubuk hati yang paling dalam, memohon dan mengiba meminta dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya. Atas segala sikap, kata, perbuatan dan tulisan. ada dalam sengaja atau tidak dalam kekhilafan. Yang pasti benar hanya yang datangnya dari Allah SWT.
" Minal A'idin Wal Faidzin, wa kullu amin wa antum bikhair "
Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1 Syawal 1429 H. Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Mari Berbagi....
Selamat datang Indonesia!!!!...
Mari berbagi setiap cerita, harapan,keinginan,karya dan Mimpi.....
Mari berbagi setiap cerita, harapan,keinginan,karya dan Mimpi.....
- Sakti Fahri Seno -
Selasa, 30 September 2008
Pesor !!!
Gw : "PESOR!!!"
Temen Gw : "Makanan? makanan apaan Ri' ?"
Hhhhmmmhhh.... rada sebel juga dengernya sesaat pertanyaan itu gw denger. Makanan khas nenek moyang gw saat lebaran, selalu ada buat mereka yang melestarikan budaya. Sejenis lontong, simple dan ga macem-macem. dibungkus daun pisang berbentuk segi empat, horisontal memanjang. ketebalannya sekitar 3 centi meter dengan panjang sekitar 15 centi meter dan lebar sekitar 8 atau 9 centi meter. bahannya beras yang sudah di masak setengah mateng. yang unik disini adalah dibungkus dengan daun pisang kemudian dibuat berpasangan dan diikat dengan tali rapia. Coba aja kalo kalian bisa buatnya, ini memang sangat simple sekali namun tidak semua orang mampu membuatnya. belum lagi proses perebusan hingga kenyal yang agak sedikit lama(semakin lama direbus akan semakin gurih dan kenyal). Entah siapa yang memulai, yang menemukan dan sebagai inovatornya yang pasti turun temurun pesor ini selalu ada khususnya dikeluarga gw. Kalau ada beberapa orang menandai datangnya lebaran dengan baju baru dan pengakuan bersih(suci) buat kita cukup dengan adanya pesor semua akan menjadi semakin terasa. Penempuhan sebulan penuh ramadhan dan perayaan hari kemenangan semakin kental kami rasakan saat bongkahan-bongkahan pesor menghiasi meja makan kami. cukup buat kami bersuka ria setelah berpuasa dan bersedih hati karena ditinggalkannya. pesor bermakna sangat dalam buat kami, betapa tidak saat ketupat sudah mengglobal kemudian hanya pesor yang terus mewakili identitas kami warga jakarta, sedikit egois terdengar namun buat kami itulah salah satu kebanggaan kami. Memang sangat sederhana makanan ini namun hanya ada disaat istimewa menjadikan makanan ini ikut istimewa. Coba aja kepengen makan pesor diluar hari lebaran pasti susah nyarinya kalo ketemu dan bisa makan-pun akhirnya pesor tidak lebih dari hanya sekedar lontong atau makanan untuk sarapan. Tidak ada nilai apa-apa disitu.
Tahun ini 1429 H. pastinya keluarga kami menghidangkan pesor sebagai makanan utama, biasanya mampu bertahan hingga 2 atau 3 hari setelah hari raya. Dihidangkan bersama sayur santen isi pepaya muda, kacang panjang dan irisan dadu kentang biasanya ditemani emping melinjo. Poko'nya semua menjadi lengkap dan istimewa dengan hadirnya pesor ketengah-tengah kami......(kapan-kapan gw kenalin Pesor buat elo-elo yang belom tau)
Temen Gw : "Makanan? makanan apaan Ri' ?"
Hhhhmmmhhh.... rada sebel juga dengernya sesaat pertanyaan itu gw denger. Makanan khas nenek moyang gw saat lebaran, selalu ada buat mereka yang melestarikan budaya. Sejenis lontong, simple dan ga macem-macem. dibungkus daun pisang berbentuk segi empat, horisontal memanjang. ketebalannya sekitar 3 centi meter dengan panjang sekitar 15 centi meter dan lebar sekitar 8 atau 9 centi meter. bahannya beras yang sudah di masak setengah mateng. yang unik disini adalah dibungkus dengan daun pisang kemudian dibuat berpasangan dan diikat dengan tali rapia. Coba aja kalo kalian bisa buatnya, ini memang sangat simple sekali namun tidak semua orang mampu membuatnya. belum lagi proses perebusan hingga kenyal yang agak sedikit lama(semakin lama direbus akan semakin gurih dan kenyal). Entah siapa yang memulai, yang menemukan dan sebagai inovatornya yang pasti turun temurun pesor ini selalu ada khususnya dikeluarga gw. Kalau ada beberapa orang menandai datangnya lebaran dengan baju baru dan pengakuan bersih(suci) buat kita cukup dengan adanya pesor semua akan menjadi semakin terasa. Penempuhan sebulan penuh ramadhan dan perayaan hari kemenangan semakin kental kami rasakan saat bongkahan-bongkahan pesor menghiasi meja makan kami. cukup buat kami bersuka ria setelah berpuasa dan bersedih hati karena ditinggalkannya. pesor bermakna sangat dalam buat kami, betapa tidak saat ketupat sudah mengglobal kemudian hanya pesor yang terus mewakili identitas kami warga jakarta, sedikit egois terdengar namun buat kami itulah salah satu kebanggaan kami. Memang sangat sederhana makanan ini namun hanya ada disaat istimewa menjadikan makanan ini ikut istimewa. Coba aja kepengen makan pesor diluar hari lebaran pasti susah nyarinya kalo ketemu dan bisa makan-pun akhirnya pesor tidak lebih dari hanya sekedar lontong atau makanan untuk sarapan. Tidak ada nilai apa-apa disitu.
Tahun ini 1429 H. pastinya keluarga kami menghidangkan pesor sebagai makanan utama, biasanya mampu bertahan hingga 2 atau 3 hari setelah hari raya. Dihidangkan bersama sayur santen isi pepaya muda, kacang panjang dan irisan dadu kentang biasanya ditemani emping melinjo. Poko'nya semua menjadi lengkap dan istimewa dengan hadirnya pesor ketengah-tengah kami......(kapan-kapan gw kenalin Pesor buat elo-elo yang belom tau)
Penda' wah....?
MENEBAR ILMU dan TEGAKKAN SUNNAH.
" Ya Rab saksikanlah....bukankah hamba-Mu telah menyampaikan apa yg telah disampaikan baginda Rasulullah SAW... "
" Ya Rab... Janganlah kau tempatkan aku kedalam golongan orang-orang yg Munafik (yg menyembunyikan amanah) "
2 penggal do'a diakhir surat yang selalu dikirimkan kepada khalayak banyak(khalayak-banyak = hyper correct) . Sebuah permohonan bernada pengakuan, diplomatis terkesan menyudutkan.
Mengaku turut serta menjadi penyampai, penda' wah dan bagian dari supply chain. But! what the essence ? ga ngerti maksudnya apa, sekilas jika hanya kenal atau baru kenal dan atau tidak kenal sama sekali kalimat diatas menjadi sangat mulia baik dan terkesan bijaksana. Namun apakah kemudian kenyataannya seperti itu ? ini pertanyaannya, mesti dijawab dengan segala kerendahan hati, sikap yang mulia sebagai cerminan dari penyampai dan penda' wah. ketahuilah bahwa Allah maha melihat dan itu mutlak! bercermin terlebih dahulu adalah langkah terbaik sebelum mencoba menjadi penyampai atau penda' wah. Kalimat mari belajar bersama adalah yang paling tepat untuk setiap kita yang masih jauh dari konsistensi terhadap pelaksanaannya. So'... Baik memang memberi tahu yang baik kepada banyak orang, hindari segala bentuk penghakiman, pengakuan dan pelecehan terhadap isi dari sesuatu yang disampaikan. Let's start with ourself first!....
" Ya Rab saksikanlah....bukankah hamba-Mu telah menyampaikan apa yg telah disampaikan baginda Rasulullah SAW... "
" Ya Rab... Janganlah kau tempatkan aku kedalam golongan orang-orang yg Munafik (yg menyembunyikan amanah) "
2 penggal do'a diakhir surat yang selalu dikirimkan kepada khalayak banyak(khalayak-banyak = hyper correct) . Sebuah permohonan bernada pengakuan, diplomatis terkesan menyudutkan.
Mengaku turut serta menjadi penyampai, penda' wah dan bagian dari supply chain. But! what the essence ? ga ngerti maksudnya apa, sekilas jika hanya kenal atau baru kenal dan atau tidak kenal sama sekali kalimat diatas menjadi sangat mulia baik dan terkesan bijaksana. Namun apakah kemudian kenyataannya seperti itu ? ini pertanyaannya, mesti dijawab dengan segala kerendahan hati, sikap yang mulia sebagai cerminan dari penyampai dan penda' wah. ketahuilah bahwa Allah maha melihat dan itu mutlak! bercermin terlebih dahulu adalah langkah terbaik sebelum mencoba menjadi penyampai atau penda' wah. Kalimat mari belajar bersama adalah yang paling tepat untuk setiap kita yang masih jauh dari konsistensi terhadap pelaksanaannya. So'... Baik memang memberi tahu yang baik kepada banyak orang, hindari segala bentuk penghakiman, pengakuan dan pelecehan terhadap isi dari sesuatu yang disampaikan. Let's start with ourself first!....
Minggu, 28 September 2008
Ramadhan 1429 H
4 Hari menjelang idul fitri....
Segala harapan dan do'a serta usaha tentu saja terus dilakukan demi meraih sebuah ke-fitri-an, perjalanan baru dalam kehidupan dengan status bersih atau suci. Saling berlomba demi mendapatkannya,namun begitu tentu saja tidak ada seorangpun yang mampu mencapainya dalam ukuran masyarakat sosial-agamis. Pertanyaannya adalah " Kenapa bisa begitu ?!! " mari bersama-sama kembali melihat kepada permukaan masing-masing usaha kita, usaha yang keras tanpa sebuah keikhlasan tentu saja ternodai karenanya. Terkotaknya sebuah peradaban dari tingkat sosial kemudian menjauhkan diri dari prinsip agamis, semakin jauh terlampaui semakin dekat dengan fiddun-ya hasanah. Kerapkali kalimat " carilah dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya " menjadi simbol sebuah usaha mencapai kehidupan dunia yang berlebih. Lalu kemana usaha kita untuk akhirati hasanah ? perjalanan ibadah dalam ruang lingkup kewajiban sebagai makhluk tidak-lah menjadi jaminan yang pasti menuju surga Allah, butuh pengkajian lebih jauh atas apa yang sudah kita lakukan. Intinya tidak-lah pantas seorang hamba percaya diri atas segala rangkaian ibadah yang sudah dilakukan sedianya menjadi passkey Jannah. Karena ternyata masih terdapat sebuah elemen penting yang kerapkali kita lupakan yaitu Hablumminannas , terlalu percaya diri sehingga lupa akan elemen penting ini. Kepekaan, penjagaan sikap, tingkah laku dan tutur bahasa terhadap sesama menjadi tersamar. Ada, kadang ada, ada dengan harapan, dan atau bahkan tidak ada sama sekali. Sudahlah tentu 2 elemen penting menjadi dasar utama untuk layak mendapatkan janji Allah, jika hanya salah satunya maka tak akan ada jaminan apa-apa untuk meraihnya. Mari coba berfikir terbalik, ramadhan menjadi sarana belajar untuk meraih kesucian atau paling tidak rangkaian ibadah didalamnya menjadi media untuk belajar. kemudian mengaplikasikannya dalam seluruh kehidupan setelah ramadhan, sehingga dalam fase ramadhan berikutnya adalah fase yang sesungguhnya. Meleburkan setiap dosa dalam hitungan detik, mengampun dalam tataran makhluk yang dhaif. Sehingga Surga Allah menjadi target yang lebih utama ketimbang hanya mensucikan diri dalam sebulan setiap tahunnya. Happy idhul fithri festival 1929 H.
Segala harapan dan do'a serta usaha tentu saja terus dilakukan demi meraih sebuah ke-fitri-an, perjalanan baru dalam kehidupan dengan status bersih atau suci. Saling berlomba demi mendapatkannya,namun begitu tentu saja tidak ada seorangpun yang mampu mencapainya dalam ukuran masyarakat sosial-agamis. Pertanyaannya adalah " Kenapa bisa begitu ?!! " mari bersama-sama kembali melihat kepada permukaan masing-masing usaha kita, usaha yang keras tanpa sebuah keikhlasan tentu saja ternodai karenanya. Terkotaknya sebuah peradaban dari tingkat sosial kemudian menjauhkan diri dari prinsip agamis, semakin jauh terlampaui semakin dekat dengan fiddun-ya hasanah. Kerapkali kalimat " carilah dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya " menjadi simbol sebuah usaha mencapai kehidupan dunia yang berlebih. Lalu kemana usaha kita untuk akhirati hasanah ? perjalanan ibadah dalam ruang lingkup kewajiban sebagai makhluk tidak-lah menjadi jaminan yang pasti menuju surga Allah, butuh pengkajian lebih jauh atas apa yang sudah kita lakukan. Intinya tidak-lah pantas seorang hamba percaya diri atas segala rangkaian ibadah yang sudah dilakukan sedianya menjadi passkey Jannah. Karena ternyata masih terdapat sebuah elemen penting yang kerapkali kita lupakan yaitu Hablumminannas , terlalu percaya diri sehingga lupa akan elemen penting ini. Kepekaan, penjagaan sikap, tingkah laku dan tutur bahasa terhadap sesama menjadi tersamar. Ada, kadang ada, ada dengan harapan, dan atau bahkan tidak ada sama sekali. Sudahlah tentu 2 elemen penting menjadi dasar utama untuk layak mendapatkan janji Allah, jika hanya salah satunya maka tak akan ada jaminan apa-apa untuk meraihnya. Mari coba berfikir terbalik, ramadhan menjadi sarana belajar untuk meraih kesucian atau paling tidak rangkaian ibadah didalamnya menjadi media untuk belajar. kemudian mengaplikasikannya dalam seluruh kehidupan setelah ramadhan, sehingga dalam fase ramadhan berikutnya adalah fase yang sesungguhnya. Meleburkan setiap dosa dalam hitungan detik, mengampun dalam tataran makhluk yang dhaif. Sehingga Surga Allah menjadi target yang lebih utama ketimbang hanya mensucikan diri dalam sebulan setiap tahunnya. Happy idhul fithri festival 1929 H.
Langganan:
Komentar (Atom)