Islam adalah agama yang tidak memihak kepada Wanita, sebagian aturan-aturannya dianggap klasik,terlalu maskulin atau male-biased. Cenderung bias jender, yang menempatkan Wanita pada nomor dua setelah laki-laki.Oleh karena itu, dianggap sudah tidak lagi relevan dengan keadaan modern dewasa ini.Itulah tudingan-tudingan yang dilontarkan kepada Islam, sebuah tudingan tanpa kajian. Kebebasan dan gaya hidup individualis-modis-materialistis memberikan pengaruh yang sangat besar kepada kaum muslim. Dikondisikan untuk menerima setiap hal yang berbau modern, Maka pantas jika kemudian kebahagian diukur hanya dengan nilai-nilai yang bersifat duniawi. Terpenuhinya kebutuhan jasmani dan sebanyak mungkin materi yang dapat dihasilkan sebagai barometer penentu sebuah kesuksesan. Kemudian para Wanita bersaing dengan kaum pria untuk menghasilkan karya dan mendapatkan materi sebanyak-banyaknya sehingga peran Wanita sebagai istri dan ibu sering diabaikan. Dan menganggap tidak berarti ketika tidak ada kontribusi ekonomi yang diberikan kepada keluarga. Dan mereka nyaris menanggalkan kebanggaannya menjadi seorang muslimah serta kemuliaannya sebagai istri dan ibu, pengasuh dan pendidik bagi anak-anaknya serta partner hidup suaminya. Materialisme pada masa Renaissance telah membawa manusia pada era industrialisasi. Pandangan ini melihat Wanita dan laki-laki kodratnya sama, yakni sebagai faktor produksi. Hanya saja dilatarbelakangi pertimbangan fisik dan kelas sosial yang berlaku, upah kerja Wanita selalu nomor dua.
Kapitalisme menghancurkan industri rumah tangga satu persatu, Wanita-pun akhirnya berduyun-duyun meninggalkan “ istananya “ berbaur dengan pria untuk menjadi pekerja atau istilahnya menjadi “ Wanita Karir “.Ketika itu mulailah terdengar jerit tangis para balita yang pagi hari sudah kehilangan Ibu-nya. Motifnya adalah psikologis dan tuntutan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat.
Gerakan emansipasi yang dipopulerkan oleh wanita barat telah memancing naluri wanita untuk menunjukkan eksistensinya. Akan tetapi dilain sisi bisakah Wanita menjadi “ super woman “ yang sukses menjalankan peran gandanya ?Sungguh sebuah harga mahal yang harus ditebus ketika statistic menunjukkan angka yang meningkat pada kriminalitas,perceraian dan perselingkuhan karena telah terabaikannya keluarga sebagai basis pendidikan moral yang utama.
Dilematis memang ketika Ilmu yang telah didapat kemudian menjadi satu tuntutan untuk kemudian mengaplikasikannya kedalam dunia kerja, kemudian dihadapkan pada sebuah ketentuan atau norma Agama. Namun demikian jika memang keadaan memaksa hingga Wanita harus bekerja diluar rumah, Islam telah memberikan batasannya. Yaitu , harus seizin walinya ( Ayah atau suaminya ) untuk pekerjaan mubah seperti, mengajar anak putri atau menjadi perawat bagi pasien wanita, tidak berikhtilat (bercampur antara laki-laki dan Wanita yang bukan muhrimnya) atau berkhalwat dengan pria,tidak bertabarruj dan tidak memperlihatkan perhiasan atau kecantikannya, tidak bersolek dan memakai parfum yang berlebihan serta memakai Hijab yang sesuai dengan Syari’at.
Bagaimana pun juga, tempat bekerja wanita yang sesungguhnya dan yang paling mulia adalah di dalam rumahnya. Di sanalah wanita akan senantiasa terlindungi dan dapat lebih dekat dengan Allah manakala menetap di rumah, mencari ridha Allah dengan cara beribadah kepadaNya, mencurahkan segenap kemampuan untuk mendidik sang buah hati, mentaati suami, dan memberikan kasih sayang kepada anggota keluarga. Wanita yang hebat, bukanlah mereka yang harus bersaing berebut dunia dengan kaum pria. Wanita yang sukses adalah yang bertanggung jawab dengan tugas utama yang dianugerahkan Allah atasnya, mendidik generasi tangguh masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar